RasulullahSAW juga mempersatukan seluruh penduduk Madinah, baik Muslim, Yahudi maupun penyembah berhala berdasarkan ikatan sosial politik dan kemanusiaan. Hal itu ditetapkan dalam Piagam Madinah dengan prinsip-prinsip kebebasan beragama, toleransi, persamaan, persaudaraan, dan tolong-menolong. Jakarta - Kedatangan Nabi Muhammad SAW ke Kota Madinah pada tahun 622 M menjadi peristiwa penting dalam sejarah Islam. Nabi Muhammad SAW beserta para sahabat dan kaum muslimin lainnya pergi hijrah ke Madinah usai mengalami kekerasan dan penindasan oleh kafir Quraisy di Nabi Muhammad SAW saat pergi hijrah ditemani oleh salah seorang sahabat, yaitu Abu Bakar, secara diam-diam. Sebab, kaum kafir Quraisy telah mengintai Nabi dan membuat sayembara bahwa siapa pun yang dapat membunuh nabi akan diberi hadiah 100 ekor tiba di Madinah, Nabi Muhammad SAW bersinggah di Kota Quba terlebih dahulu yang letaknya sekitar 10 kilometer dari Kota Yatsrib atau Madinah. Di kota inilah Nabi mendirikan sebuah masjid yang menjadi masjid pertama di dunia, yaitu Masjid Quba. Setelah melewati perjalanan panjang, Nabi Muhammad akhirnya tiba ke Kota Madinah dan disambut oleh penduduk Madinah. Bagaimana penduduk Madinah menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW? Begini dalam buku Cerita Al-Qur'an karya M. Zaenal Abidin, kedatangan Rasulullah SAW di Kota Madinah disambut dengan penuh sukacita dan kegembiraan yang tampak dari wajah kaum Anshar dan kaum Muhajirin. Penduduk Madinah pada saat itu berbaur menjadi satu untuk menyambut kedatangan Anshar merupakan sebutan bagi penduduk asli Kota Madinah. Sementara kaum Muhajirin adalah sebutan bagi para penduduk pendatang yang hijrah dari Madinah menyambut kedatangan Nabi Muhammad SAW yang tiba dari perjalanan hijrahnya dengan mengumandangkan Nabi kemudian mengubah nama kota tersebut yang semula bernama Kota Yatsrib menjadi Madinatunnabi yang artinya Kota Nabi atau Kota Madinah. Pada masa itu, kota Madinah juga disebut sebagai Madinah Munawwarah yang berarti kota yang sebuah riwayat yang dituliskan dalam buku Seleksi Sirah Nabawiyah oleh Akram Dhiya' Al-Umuri, kedatangan Nabi Muhammad SAW dijemput oleh 500 orang kaum Anshar. Mereka mengerumuni Nabi dan Abu Bakar yang masih naik di atas rombongan memasuki kota Madinah, terdengar suara teriakan, "Nabi Allah telah datang, Nabi Allah telah datang."Para penduduk Madinah, baik laki-laki maupun perempuan naik ke atap rumah mereka untuk menyaksikan tibanya Rasulullah. Anak-anak pun turut berhamburan ke jalan-jalan seraya bersorak, "Wahai Muhammad Rasulullah, wahai Muhammad Rasulullah."Hingga seorang sahabat Nabi yang bernama Al-Barra' bin Azib yang menyaksikan peristiwa tersebut mengatakan, "Aku tidak pernah melihat penduduk Madinah begitu gembira seperti kegembiraan mereka ketika menyambut kedatangan Rasulullah SAW."Sayyid Mahdi Ayatullah dalam buku Kisah-Kisah Manusia Suci juga diceritakan bahwa pada saat kedatangan Nabi Muhammad di Kota Madinah, setiap orang dari kaum muslimin Madinah mengajak Rasulullah SAW untuk tinggal di rumahnya dan meminta Rasul menjadi tetapi, Rasulullah SAW berkata, "biarlah unta ini yang memilih!"Kemudian unta milik Rasulullah SAW pun berjalan menyusuri jalan-jalan di Madinah hingga tiba di depan rumah milik Abu Ayyub al Anshari. Unta itu lalu berhenti dan berlutut di depan rumah tersebut. Akhirnya, Rasulullah menempati rumah Abu Ayyub saat tiba di Nabi Muhammad SAW di Kota Madinah, beliau kemudian menyusun rencana untuk membangun masyarakat Islam yang berdaulat, merdeka, serta bebas dari ancaman dan yang Dilakukan Nabi Muhammad SAW untuk Membangun Masyarakat MadinahBerdasarkan buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Ibtidaiyah Kelas V karya Yusak Burhanudin dan Ahmad Fida', berikut adalah usaha-usaha yang dilakukan Nabi Muhammad SAW untuk membangun masyarakat Madinah1. Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Kaum AnsharNabi Muhammad SAW membangun masyarakat Madinah dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Beliau meminta mereka untuk berjanji saling membantu, saling menopang, saling melindungi, dan hidup SAW mempersaudarakan kedua kaum tersebut melalui para sahabat-sahabatnya. Seperti misalnya, Abu Bakar dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid, Umar bin Khattab dipersaudarakan dengan Utbah bin Malik, Ja'far bin Abu Thalib dipersaudarakan dengan Mu'az bin Mempersatukan Kaum Muhajirin dan Kaum Anshar melalui PernikahanNabi Muhammad SAW juga mempersatukan kaum Muhajirin dan kaum Anshar dengan jalan pernikahan. Melalui jalan inilah, rasa sedih yang dirasakan kaum Muhajirin atas harta bendanya yang mereka tinggalkan di Makkah menjadi kaum Muhajirin merasakan kekhawatiran dan ketakutan, tetapi atas usaha Nabi inilah kekhawatiran mereka menjadi lenyap dan para musuh tidak berani mengganggu mereka karena mendapat perlindungan dari saudaranya, kaum Membina Kaum Muslimin yang Terdiri dari Berbagai Suku dan KabilahRasulullah SAW turut membina kaum muslimin yang terdiri dari berbagai macam suku dan kabilah. Mereka dibina dalam naungan masyarakat Islam yang kuat dengan semangat saling membantu, gotong-royong, senasib sepenanggungan, serta dilandasi dengan akidah dan ukhuwah islamiyah atau persaudaraan antar sesama Membina Masyarakat Madinah dengan mengadakan PembinaanNabi Muhammad SAW membina masyarakat Madinah dengan mengadakan pembinaan di berbagai bidang. Langkah pertama yang dilakukan oleh Nabi adalah membangun Masjid Nabawi. Masjid ini menjadi masjid kedua yang dibangun oleh Rasulullah SAW setelah Masjid Mengadakan Perjanjian Persahabatan dan Perdamaian dengan Kaum Yahudi MadinahNabi Muhammad SAW mengadakan perjanjian persahabatan dan perdamaian dengan kaum Yahudi Madinah, yang dikenal sebagai Piagam Madinah. Dilansir dari arsip detikNews, isi piagam madinah di antaranya yaitu menetapkan adanya kebebasan beragama, kebebasan menyatakan pendapat, keselamatan harta benda, serta larangan untuk berbuat diadakannya perjanjian dalam Piagam Madinah tersebut yaitu untuk menciptakan suasana aman, tentram, dan damai di kisah dari hijrahnya nabi ke Kota Madinah dan sikap penduduk Madinah dalam menyambut kedatangan Nabi Muhammad Video "Jual Parsel Buah-buahan, Pedagang Lumajang Raih Untung 10 Kali Lipat" [GambasVideo 20detik] lus/lus Kepercayaanterhadap agama Yahudi ini bersamaan dengan kedatangan para pendatang Imigran dari wilayah utara yang terjadi sekitar abad ke 1 dan abad ke 2. Piagam Madinah Dan Upaya Menyelesaikan Sengketa Dengan Orang Yahudi Migrasi terbesar bangsa Yahudi terjadi pada tahun 132-135. Sebelum islam datang, masyarakat madinah adalah penganut. - Ketika Nabi Muhammad SAW., tiba di kota Madinah, dalam proses berhijrah meninggalkan Mekkah akibat perlakuan buruk penduduknya, beliau menemukan masyarakat yang plural di Madinah. Ketika itu, di Madinah terdapat suku-suku yang sebelumnya terlibat dalam peperangan antar mereka selama bertahun-tahun, terutama suku Aus dan Khazraj. Ada juga sekian banyak orang Yahudi dari berbagai suku dengan kekuatan ekonomi serta persenjataan, bahkan benteng-benteng yang kokoh, untuk melindungi diri. Ada juga masyarakat muslim, walau belum banyak. Sebelum Nabi SAW., tiba di Madinah, mereka sudah aktif berdakwah sehingga jumlah muslim dari hari ke hari bertambah. Keanekaragaman itu tercermin pula dalam keanekaragaman agama dan kepercayaan mereka. Dalam situasi seperti itu, Nabi SAW., hadir. Memang jauh sebelum kehadiran beliau, berita tentang akan hadirnya seorang nabi telah dipopulerkan orang-orang Yahudi sambil menekankan bahwa jika Sang Nabi datang, pasti mereka akan memperoleh kemenangan menghadapi lawan-lawan mereka. Itu karena mereka menduga bahwa Sang Nabi yang dijanjikan dalam Kitab Perjanjian Lama adalah seorang Yahudi, sebagaimana lazimnya nabi-nabi yang mereka kenal sebelumnya. Langkah pertama Nabi SAW., begitu tiba di Madinah adalah membangun masjid sebagai markas kegiatan dan tempat ibadah. Dari sana lahir langkah-langkah berikutnya yaitu mempersatukan umat Islam penduduk Madinah/al-Anshar dengan para pendatang dari Mekkah, yakni al-Muhajirin. Setiap Muhajir hidup dalam keterbatasan akibat terpaksa meninggalkan keluarga dan harta benda di Mekkah. Karena itu Nabi SAW., ā€œmempersaudarakanā€ setiap muhajir dengan seorang anshar yang siap mendukung saudaranya yang datang dari Mekkah. Langkah selanjutnya adalah menjalin hubungan persaudaraan antara seluruh penduduk Madinah dengan mengikat mereka semua dalam satu piagam yang kemudian dikenal dengan nama ā€œPiagam Madinahā€. Dalam piagam itu, semua anggota kelompok diakui eksistensinya dan dilindungi hak-haknya. Semua memperoleh hak melaksanakan agama dan kepercayaannya tanpa boleh diganggu gugat oleh siapapun. Lalu semua juga sepakat tampil membela kota Madinah jika datang serangan dari luar. Nabi Muhammad SAW disepakati menjadi pemimpin mereka. Dalam kesepakatan itu, lahirlah aneka aktivitas yang menyejahterakan masyarakat. Nabi antara lain melakukan sensus penduduk Muslim, membangun pasar serta menggali sekian banyak sumur yang kesemuanya merupakan kebutuhan masyarakat. Selama periode Madinah ini, keadilan diterapkan secara utuh tanpa kecuali oleh Nabi, termasuk terhadap Muslim yang melanggar. QS. An-Nisa ayat 105 menguraikan betapa seorang Yahudi yang dituduh mencuri oleh seorang Muslim yang justru si Muslim munafik itulah pencurinya. Ayat tersebut turun untuk mengingatkan Nabi agar tidak terpengaruh dengan ā€œkeislamanā€ sang pencuri sehingga memenangkannya atas sang Yahudi itu. Demikian keadilan dimemenangkannya atas sang Yahudi itu. Demikian keadilan ditegakkan di tengah masyarakat plural yang dipimpin oleh Nabi. Dalam periode Madinah ini juga, turun ayat-ayat yang mengajak umat Islam bekerja sama dengan siapapun selama kerja tersebut dalam kebaikan. Firman Allah Tolong-menolonglah dalam kebajikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan QS. Al-Maidah ayat 2. Tuntunan Allah ini turun dalam konteks uraian tentang sikap buruk kaum musyrik yang menghalangi Nabi dan kaum Muslim berkunjung ke Masjid al-Haram untuk beribadah. Dalam periode Madinah ini juga, firman Allah yang menegaskan bahwa izin Allah untuk melakukan pembelaan kebenaran atas para penindas bertujuan untuk memelihara tempat-tempat ibadah. Qs. Al-Hajj ayat 40 menegaskan bahwa "Sekiranya Allah tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan sebagian manusia yang lain tentulah telah dirobohkan oleh para penindas biara-biara, gereja-gereja, sinagog-sinagog, dan masjid masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Tetapi Allah tidak menghendaki roboh-robohnya tempat-tempat peribadatan itu. Sambil bersumpah, Allah melanjutkan firman-Nya bahwa Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama dan nilai-nilaiNya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. Dalam masyarakat plural yang dipimpin oleh Nabi itu juga lahir apa yang dikenal dengan janji Nabi kepada orang-orang Kristen yang bermukim di Najran. Peristiwa ini bermula dari surat yang dikirim Nabi kepada Uskup Najran, Abu Haritsah, yang mengajaknya bersama penduduk Najran untuk memeluk Islam. Sang Uskup mengutus 60 tokoh pemuka agama Nasrani untuk bertemu dengan Nabi dan berdiskusi menyangkut ajaran Islam dan Kristen. Mereka disambut hangat dan penuh hormat oleh Nabi, bahkan sekian banyak riwayat menyebutkan bahwa Nabi mengizinkan mereka melaksanakan ibadah mereka di Masjid Nabawi. Perlu dicatat bahwa izin Nabi SAW., untuk rombongan Najran melaksanakan ibadah mereka di Masjid Nabawi dinilai oleh sementara ulama sebagai peristiwa khusus yang tidak wajar lagi diulangi. Lebih-lebih dewasa ini, mengingat bahwa hal tersebut dapat memicu kesalahpahaman. Demikian juga sebaliknya, kendati ulama membolehkan salat di gereja selama bersih. Namun dengan alasan yang sama, maka hal tersebut sebaiknya tidak diskusi panjang yang tidak menemukan titik temu, tidak ada usul dari umat muslim untuk berdoa kepada Tuhan guna menjatuhkan sanksi terhadap yang salah karena keengganan delegasi Najran masuk Islam, maka delegasi itu kembali ke kampung halaman mereka sambil membawa janji Nabi buat semua umat Nasrani di mana pun dan kapan pun yang, intinya, berisi janji dari Nabi untuk melindungi mereka Lihat teks janji Nabi tersebut DI SINI. Anda jangan berkata bahwa ini terjadi pada awa masa Islam! Jangan! Peristiwa ini terjadi pada tanggal 24 bulan Dzu al-Hijrah tahun ke-10 Hijrah, yakni sekitar tiga bulan sebelum Nabi Muhammad SAW wafat red artinya Islam sudah dalam posisi yang kokoh saat itu. Nabi wafat menurut pendapat yang popular pada 12 rabi’ul al-awwal tahun ke-11 H. Demikian wa Allah A’lam.======* Naskah diambil dari buku "Kumpulan 101 Kultum Tentang Islam" yang diterbitkan oleh penerbit Lentera Hati. Pembaca bisa mendapatkan karya-karya Prof. Quraish Shihab melalui website penerbit. - Pendidikan Reporter M. Quraish ShihabPenulis M. Quraish ShihabEditor Zen RS Sebelumkedatangan agama Islam, Madinah bernama Yatsrib. Kota ini merupakan salah satu kota terbesar di propinsi Hijaz. Sebagian besar kehidupan masyarakat kota ini hidup dari bercocok tanam, selain berdagang dan beternak. Hampir bisa dipastikan bahwa sebagian besar dari mereka adalah para pendatang yang bermigrasi dari wilayah utara Jawabanmasyarakat Madinah yang dibangun oleh nabi Muhammad SAW. adalah masyarakat yang berhasil memberlakukan nilai-nilai keadilan , prinsip kesetaraan hukum, jaminan kesejahteraan bagi semua warga , serta perlindungan terhadap kelompok minoritassemoga membantu ā€œjadikan jawaban terbaik ya ā€œ Jawabanmasyarakat yang berhasil memberlakukan nilai-nilai keadilan, prinsip kesetaraan hukum, jaminan kesejahteraan bagi semua warga, serta perlindungan terhadap kelompok kebahasaan, kata "madinah" berarti kota. Kata ini punya akar kata yang sama dengan kata din yang berarti agama. Kedua kata itu berasal dari tiga huruf yaitu "d-y-n" dal-ya'-nun, yang bermakna dasar "patuh".Dengan demikian, menurut Cak Nur, kedua kata mengajarkan sikap tunduk-patuh kepada Sang Maha Pencipta. Kepatuhan penuh pasrah kepada Yang Mahapencipta, dalam bahasa Arab disebut Islam, yang memiliki makna damai dan "Madinah" yang digunakan Nabi SAW untuk mengganti nama Yatsrib, jelas Cak Nur, menyiratkan semacam proklamasi atau deklarasi, bahwa di tempat baru itu hendak diwujudkan suatu masyarakat yang tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Secara sosial dan politik, sangat teratur atau berperaturan, sebagaimana mestinya sebuah masyarakat ideal.ā€œMaka madinah adalah pola kehidupan sosial yang sopan, yang ditegakkan atas dasar kewajiban dan kesadaran umum untuk patuh kepada peraturan atau hukum. Sistem yang dibangun merujuk kepada pola kehidupan teratur dalam lingkungan masyarakat yang disebut kota,ā€ MasyarakatMadinah sebagian besar - 33988463 risnapalangkaraya risnapalangkaraya 04.10.2020 Sejarah Sekolah Dasar terjawab Masyarakat Madinah sebagian besar adalah para pendatang dari . a.Yahudi dan Nasrani b. Yahudi dan Persia c.Yahudi dan Arab Yaman d. Yahudi dan Quraisy 2 Lihat jawaban Sebelum kedatangan agama Islam, Madinah bernama Yatsrib. Kota ini merupakan salah satu kota terbesar di propinsi Hijaz. Kota ini merupakan kota strategis dalam jalur perdagangan yang menghubungkan antara kota Yaman di selatan dan Syiria di utara. Selain itu, Yatsrib merupakan daerah subur di Arab yang dijadikan sebagai pusat pertanian. Sebagian besar kehidupan masyarakat kota ini hidup dari bercocok tanam, selain berdagang dan beternak. Karena letaknya yang strategis dan berlahan subur maka tak heran jika banyak penduduknya yang berasal dari bukan wilayah itu. Hampir bisa dipastikan bahwa sebagian besar dari mereka adalah para pendatang yang bermigrasi dari wilayah utara atau selatan. Pada umumnya mereka pindah ke wilayah ini karena persoalan politik, ekonomi, dan persoalan-persoalan kehidupan lainnya, misalnya bangsa Yahudi dan bangsa Arab Yaman. Kedua bangsa inilah yang mendominasi kehidupan sosial ekonomi dan politik. Kelompok masyarakat Yahudi yang berdiam di kota Yatsrib kebanyakan berasal dari wilayah utara. Mereka datang ke kota itu secara bergelombang yang dimulai pada abad ke-1 dan ke-2 M. Mereka berusaha menghindar dari kejaran bangsa Romawi yang ingin membunuh dan menghancurkan kehidupan mereka. Pengejaran ini dilakukan karena bangsa Romawi memandang bangsa Yahudi sebagai bangsa pemberontak. Mereka melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan bangsa Romawi yang tengah berkuasa saat itu. Sementara bangsa Arab datang ke Yatsrib karena negerinya dilanda bencana alam, berupa hancurnya bendungan Ma'arib yang dibangun sejak masa ratu Balqis ketika kerajaan Saba masih berjaya. Selain persoalan itu, alasan kepindahan bangsa Arab selatan ini ke Yatsrib karena persoalan konflik politik yang berkepanjangan yang melanda negara dan bangsa mereka. Dua suku besar yang berhasil masuk dan menetap di Yatsrib adalah suku 'Aus dan Khazraj. Kedatangan bangsa Arab Yaman ke Yatsrib diperkirakan terjadi pada tahun 300 M. Mereka juga berdatangan secara bergelombang. Gelombang terbesar terjadi pada akhir abad ke-4 M. Kedatangan mereka secara masal ini ternyata mengalahkan jumlah masyarakat Yahudi yang lebih awal menetap di kota itu. Pada awalnya, kedua suku bangsa ini, yakni Yahudi dan Arab dapat hidup secara berdampingan, saling menghormati satu sama lain dan sebagainya. Namun dalam perkembangan selanjutnya, ketika masyarakat Arab melebihi jumlah penduduk bangsa Yahudi, mulai timbul kecurigaan dan saling ancam. Ketegangan ini berawal dari sikap bangsa Yahudi yang sangat sombong. Mereka menyombongkan diri sebagai manusia pilihan Tuhan karena dari suku mereka banyak diutus para nabi dan rasul. Selain itu, mereka adalah pengaut agama tauhid, sementara masyarakat Arab adalah penyembah berhala. Apabila timbul konflik di antara mereka, dua kelompok sosial ini, orang Yahudi selalu berkata dengan nada ancaman, "Kehadiran seorang Nabi yang akan diutus sudah dekat. Dia akan memimpin kami untuk membunuh kalian." Para pendeta jika ditanya tentang kedatangan Nabi mereka selalu menunjuk ke Yaman. Isyarat itu bagi penduduk Yatsrib bukan negeri Yaman, melainkan kota Mekkah. Oleh sebab itu, ketika orang Yatsrib mendengar ada seseorang di Mekkah yang mengaku dirinya sebagai Nabi, mereka membuka telinganya lebar-lebar untuk mencari informasi mengenai kebenaran berita tersebut. Ketika musim haji tiba, mereka mengutus para pemuda untuk datang dan menyelidiki kebenaran itu. Hasilnya, ternyata berita yang disebarkan buru-buru mendatangi Nabi Muhammad saw. yang kemudian menghasilkan dua perjanjian, yaitu Perjanjian Aqabah 1 dan Perjanjian Aqabah II. Dari perjanjian ini kemudian mereka menyusun strategi untuk meminta Nabi datang ke Yatsrib dan mengajak bangsanya memeluk Islam. Dari sini dapat disimpulkan bahwa masyarakat Madinah atau Yatsrib sebelum kedatangan agama Islam terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu bangsa Yahudi yang datang lebih awal ke Yatsrib dan bangsa Arab Yaman. .
  • r3jytxur2c.pages.dev/936
  • r3jytxur2c.pages.dev/922
  • r3jytxur2c.pages.dev/436
  • r3jytxur2c.pages.dev/364
  • r3jytxur2c.pages.dev/25
  • r3jytxur2c.pages.dev/932
  • r3jytxur2c.pages.dev/77
  • r3jytxur2c.pages.dev/316
  • r3jytxur2c.pages.dev/232
  • r3jytxur2c.pages.dev/788
  • r3jytxur2c.pages.dev/496
  • r3jytxur2c.pages.dev/839
  • r3jytxur2c.pages.dev/221
  • r3jytxur2c.pages.dev/819
  • r3jytxur2c.pages.dev/174
  • masyarakat madinah sebagian besar adalah para pendatang dari